Sunday, January 14, 2018

Journaling dan Bullet Journal Bantu Atasi Stress dan Depresi

Annyeong~

bullet journal adalah


Di akhir Desember 2017 kemarin, sekaligus persiapan menghadapi 2018, aku mulai melakukan rutinitas baru: JOURNALING. Aku termotivasi bikin jurnal karena aku baca artikel kalau journaling itu bagus buat orang yang overthinking. Mengingat selama ini aku selalu spoil soal hidupku cara dengan nulis di media sosial (kebanyakan di Line karena jarang dibaca orang), aku pikir nggak ada salahnya aku nyoba journaling. Jauh lebih positif daripada curcol di media sosial.

Berdasarkan artikel yang aku baca di Glamour UK, life coach Annabel Gledden bilang kalau hasil riset membuktikan keefektivan mengeluarkan pikiran melalui journaling. Tips dari dia adalah tulis semua apa yang ada di pikiran kita, tulis terus-menerus mulai dari hal sepele sampai yang serius. Buat orang yang overthinking atau kebanyakan mikir, cara ini bisa bantu ngatasinnya. Coba bayangin (atau mungkin kamu juga ngalamin), kebanyakan mikir bikin otak jadi panas, trus lama-lama stress. Bener nggak?

Sesuai yang udah pernah aku bahas di postingan sebelumnya, aku menderita anxiety. Pada dasarnya, aku punya kepribadian introvert. Yang nggak bisa aku pungkiri, aku punya banyak banget insecurity, terutama soal cowok dan masa depan. Insecurity itu bikin otak berilusi tentang sesuatu yang belum atau bahkan nggak terjadi. Yang akhirnya menimbulkan kecemasan berlebih. Alhasil jadi lebih mudah sedih dan nangis. Hal ini terjadi berlarut-larut akhirnya bikin stress dan depresi hingga berujung ke pikiran "pengen bunuh diri".

Dari penjelasan itu mungkin kalian berpikir, "Lho, itu udah tau? Kok masih sedih?" Well, aku emang paham apa yang aku alami. Tapi nggak selamanya aku bisa kontrol emosi. Namanya manusia, sadar nggak sadar pasti bakal kemakan sama kondisi mental yang labil. Dan mungkin karena hal tersebut udah berjalan selama aku hidup, yang namanya insecurity, anxiety, sedih berlarut-larut, galau susah banget diminimalisir.

bullet journal adalah

Sampai akhirnya aku nyoba buat journaling. Awalnya, aku pakai buku planner biar hidupku yang carut-marut ini sedikit terorganisir. Basically monthly planner gitu. Tapi aku belum merasa puas, kayak masih ada yang kurang. And then YouTube recommended me videos of making bullet journal. Dari situlah terpikir buat bikin buku diary dalam bentuk bullet journal.

Salah satu contoh bikin bullet journal bisa dilihat di video ini:


Apa itu bullet journal? Menurut definisiku, bullet journal itu semacam planner atau agenda, hanya aja kita dikasih lebih banyak kreativitas di dalamnya. Journaling bisa ditulis di mana aja. Bedanya, bullet journal lebih ke bikin sendiri planner yang kita mau. Jadi nggak harus mengandalkan planner yang udah ada di buku planner. Karena bikin sendiri, kita bisa tambahin gambar-gambar sesuai kreativitas to make it more interesting.

Buatku, bullet journal jadi lebih efektif buat nulis diary ketimbang agenda (soalnya aku anaknya go with the flow, mau ngerencanain apa aja juga nggak bakal jalan karena spontanitasnya). Kalau biasanya apa-apa aku tulis di Line, sekarang aku tulis dengan tulisan tangan di bullet journal. Apa aja. Terutama sih kalau lagi sedih, galau, dan nggak ada teman cerita. Seolah kertas-kertas di buku jurnal jadi sahabat dan pendengar yang baik (huhuhu sedih T_T).

Menariknya, bullet journal juga kasih kita ruang untuk memotivasi diri sendiri. Aku bisa nambahin quote-quote yang membangun. Mencatat daftar yang harus aku syukuri. Menulis hal-hal positif yang bisa mendorong mundur semua insecurity-ku. Ibarat kata, bullet journal menjaga aku tetap on track supaya nggak selalu nurutin emosi.

bullet journal adalah
Setelah dijalani, memang ada sensasi lega pas nulis. Like, semua sumbat di hati dan pikiran keluar semua. Selain itu, yang tadinya kita ada waktu buat galau, waktunya habis buat menggambar di bullet journal. Nggak hanya menggambar sih, tapi juga hand lettering. Bikin bullet journal di waktu yang sama juga jadi belajar calligraphy. Hahaha. Pikiran juga jadi lebih positif, kayak udah nggak ada kelabunya. Thanks to motivating quotes.

Journaling memang jadi semacam mental terapi. Tapi nggak selamanya journaling memperbaiki "gangguan" itu. Karena tetap ada saatnya kita merasa insecure dan memunculkan aura negatif. Balik lagi, karena kita manusia. Buatku, fungsi journaling lebih jadi reminder, buat ngingetin kita untuk terus positif dan belajar dari kesalahan. Juga supaya nggak overthinking. In short, journaling bantu mengurangi stress atau bahkan mencegah stress muncul.

Buat yang punya kepribadian introvert (nggak bisa terbuka sama orang lain), masalah overthinking (apa-apa dipikirin banget), cemas berlebih, stress, depresi, dan bahkan punya pikiran buat bunuh diri, cobain journaling deh. Siapa tahu membantu buat mengatasi semua kekalutan mental itu. YOLO, make it to the fullest. Nggak masalah kalau nggak happy, yang penting content. Maapkan aku sok bijak. 

bullet journal adalah

Oh iya, berkat bikin bullet journal aku jadi terobsesi sama stationary lagi lho. Jadi suka beli pulpen warna-warni, sticker, washi tape, dan alat tulis lucu lainnya. Rasanya happy ketemu pulpen warna-warni. Tipsku, bikin bullet journal sebaiknya dilakukan di buku yang kertasnya punya motif titik-titik atau dotted. Akan lebih bagus buat gambar karena ada guideline-nya, tapi nggak begitu kelihatan. Daripada pakai kertas bergaris, I think dotted paper is better. Bisa beli di Muji atau Miniso. Aku rekomendasiin beli pulpen di Miniso karena 30.000 bisa dapat 3 pulpen. Save more money, right? Nah, kalau mau beli stationary kawaii lucu-lucu dan murah, beli aja di Instagram @eternal.stuff.

Semoga pengalamanku journaling dan bikin bullet journal membantu teman-teman yang juga mengalami kekalutan mental ya :) Tetap semangat. You're not alone.

0 comments:

Post a Comment

 

Pretty Petite Template by Ipietoon Cute Blog Design