Wednesday, January 10, 2018

Aku Menderita Anxiety, Masih Normal Tapi Cukup Mengkhawatirkan

Aku bisa bilang kalau....

Aku menderita anxiety

Emang memalukan bilang kayak gini dari mulut sendiri. Tapi dari artikel dan beberapa sumber yang aku lihat, apa yang aku rasain most of the days adalah anxiety. Boleh dibilang insecure yang berujung pada anxiety.

Apa itu anxiety? Bisa cari infonya di Google. Pendeknya, anxiety itu kecemasan berlebih. Dan memang itu yang aku alami.

Kalau boleh jujur, aku punya BANYAK banget insecurity dalam otak. Soal ini, soal itu. Gimanapun semua rasa nggak aman itu bikin aku cemas akan seperti apa aku nantinya. Kalian tau? Aku bisa ngehabisin berjam-jam buat nangis nggak kelar-kelar. Hanya karena mikirin diri ini yang selalu gagal sebagai manusia dan ketakutan akan gagal lagi di masa depan. Satu hal lagi, selalu banyak pertanyaan dalam benakku kenapa Allah nakdirin aku buat ngerasain semua 'ketidakenakan' ini.

Bukannya aku nggak bersyukur. Aku sangat bersyukur. Tapi yang bikin makin getir adalah ketika anxiety ini berimbas ke orang terdekat kita, which is pacar atau cowok yang lagi deket. Ujung-ujungnya jadi sering judging. Bagai jalan ke mulut jurang, dia jadi nggak nyaman sama kita. Alhasil, impian dikasih bunga, dikasih surprise, diperlakukan selayaknya guci fragile jadi semacam khayalan belaka. Karena kita nyebelin. Karena anxiety itu yang menyetir otak kita buat berlaku nggak ngenakin ke orang.

Jujur aja, sempat beberapa kali (sering malah) ada pikiran buat bunuh diri. Dengan anggapan aku sama sekali nggak punya worth atau value buat terus hidup. Apa gunanya hidup kalau aku cuma harus ngerasain sakit? Gunanya apa kalau yang bisa aku lakuin cuma nyusahin orang? Dan siapa yang harus disalahin sama semua masalah di hidupku? Nggak ada. Cuma aku, diri aku. Karena semua masalah, kecemasan, ketakutan, kegagalan, dan ketidakbenaran dalam hidupku berakar dari diriku sendiri. Dari siapa diri aku, personaliti aku, dan sikap aku. Siapa yang harus disalahin? Nggak ada. Cuma aku, diri aku.

Aku udah mencoba sekuat tenaga buat terus berpikiran positif. Mulai journaling buat merekam semua perjalanan, memotivasi diri sendiri, pokoknya dengan paksaan kuat aku berusaha semangat dan optimis. Tapi nggak bisa selamanya. Ada saat dimana anxiety itu muncul, sedikit demi sedikit memakanku, menyetir otakku buat terus jatuh -- yang bagaimanapun, jujur aja, merupakan sebuah 'kenyamanan' buat aku.

Aku sendiri nggak bisa menjelaskan dengan tepat gimana rasa nyaman dari anxiety muncul. Yang pasti, ada perasaan lega ketika aku nangis berjam-jam tanpa henti. Seolah air mata ini membawa keluar semua sumbat di hatiku. Meski nggak ada solusinya, cuma nangis, that's it.

Sebagai pribadi introvert, aku emang nggak bisa luwes cerita masalahku ke orang lain. Apalagi kalau udah menyangkut keluarga. Aku bahkan terlalu malu nyeritain keluargaku. Dan kadang, yang aku sesali, aku nggak bisa jadikan fungsi pacar sebagai tempat berbagi yang betul-betul dalam. Kayak ada dinding pemisah yang bikin aku enggan ganggu dia dengan semua masalah-masalahku.

Udahlah, anxiety ini terlalu kompleks. Mulai dari pacar, ke pekerjaan, sampai ke keluarga, semuanya sambung-menyambung jadi simpul rumit yang bikin kepala ini mau pecah. Aku rasa anxiety yang aku alami masih tahap normal, bukan gangguan. Karena fisikku masih prima. Mungkin ini cuma masalah kesehatan mental aja. Mungkin soal mindset. Atau mungkin soal bagaimana cara supaya aku bisa memaafkan dan mencintai diriku sendiri.

0 comments:

Post a Comment

 

Pretty Petite Template by Ipietoon Cute Blog Design