Monday, November 20, 2017

Pengalaman Interview Narasumber Generasi Jaman Old

Haloha...

Well, kali ini aku pengen cerita dan berunek-unek seputar pengalamanku interview narasumber. Buat yang belum tahu, aku ini adalah writer merangkap reporter di salah satu media online. Mewawancarai narasumber udah jadi salah satu tugas kerjaku. Tentu, buat kepentingan artikel yang bakal aku tulis. Nah, beberapa kali kesempatan, kami akan membahas batik. Di situlah aku ditugaskan buat interview narsum yang berkompeten soal batik. Dua narsum yang pernah aku temui adalah Bu Neneng Iskandar (kurator batik) dan Bu Obin (tukang kain yang juga dekat dengan batik).

Dua narsum ini boleh dibilang merupakan generasi jaman old, kalau kata kids jaman now. Sosok mereka juga sangat legendaris sebagai seseorang yang paham akan batik (seenggaknya seperti itu yang orang-orang bilang). Trus, gimana pengalamanku interview mereka? Baiklah, kalian bisa bersiap diri baca semua komentar dan unek-unekku di sini.

Komentar pertama: It was frustating! Nggak ngerti gimana menjelaskannya secara rinci, yang pasti seenggaknya kita harus usia 30-40an kalau mau nyaman interview mereka. Kenapa? Karena usiaku yang masih 25-an nggak nyambung 'ngobrol' sama mereka. Yang pasti, salah sedikit ngomong (misal, kepleset ngomong apa atau sekadar basa-basi), kita bakal 'disemprot'. Kecuali, kalau emang kalian adalah pribadi kritis dan tahu segala, mungkin kalian bisa jadi best friend mereka.

Tapi karena aku kerja di media yang mostly bahas fashion, beauty, dan lifestyle, juga di waktu yang sama aku adalah pribadi yang nggak terlalu peduli dengan apa yang menurutku nggak kasih efek langsung buat diriku, jadi wajar kan kalau aku nggak tahu segala? Soal politik atau hot issue, pilihanku buat nggak peduli karena menurutku bikin pusing. Ngurusin hidup sendiri aja udah stres apalagi ditambah mikirin politik bla bla bla. Egois, I know. Tapi nggak berarti otakku kosong.

Ini nih yang sebenernya aku pengen protes sama dua narsum ini ketika mereka men-judge aku sebagai orang yang "nggak tahu apa-apa" dan perlu baca buku. Konsentrasi keinginan, keunikan, passion setiap orang kan beda. Nggak tahu politik, budaya, atau hot issue nggak berarti bodoh. Coba, kalau dibalik aku yang mbahas soal K-Pop dan pop culture lainnya ke mereka? Mereka pasti KICEP! Tapi balik lagi, mereka adalah people jaman old. Wajar kalau mereka berharap lebih ke kids jaman now alias generasi milenial buat lebih aware sama sekitar dan lebih banyak belajar.

Cuman ya itu, aku nggak suka di-judge. Kita datang baik-baik mau intervew, mau tahu profil mendalam soal mereka dan apa itu batik/kain, eh malah pribadi kita dikatain. Kan kezel yak? Aku sih appreciate banget sama nasehat yang mereka kasih, tapi nasehat mereka menyiratkan judgment. Seolah kebanyakan anak sekarang nggak tahu caranya belajar. Hey, belajarnya kita beda-beda keleus. Karena jiwa dan passion-ku lebih ke generasi remaja, makanya aku suka K-Pop, K-drama, dan semua yang memang lagi disukai saat ini. Which is bukan sesuatu yang worthless karena tetap ada kalangan yang membutuhkan info ini. Misalnya, saat aku nulis buat situs remaja.

So guys, kalau kalian ada rencana interview dua narsum tersebut, terutama bu Obin, just make sure buat mempersiapkan diri. Kalau kalian merasa terlalu dini buat wawancara narsum usia sepuh, mending hand over ke editor atau siapapun yang usianya lebih dewasa. Kalaupun kalian yang tetep maju, banyak-banyak pereuz deh. Jangan terlalu polos. Jangan tanya hal yang infonya udah banyak ditemukan di internet dan majalah. Ah, intinya siap-siap disemprot aja deh.

Walau KEZEL beudh tiap inget interview mereka, aku jadi punya pengalaman dan tahu gimana cara menghadapi orang. Karena yang dibutuhkan reporter adalah jadi bunglon, bisa tahu dan mengimbangi orang yang lagi kita hadapi. Buat orang yang pengalaman interview-nya minim kayak aku, emang agak susah sih. Tapi seenggaknya udah mencoba.

So yeah, itu pengalamanku. Semoga membantu ya. Ciaobella~

0 comments:

Post a Comment

 

Pretty Petite Template by Ipietoon Cute Blog Design