Monday, November 20, 2017

Pengalaman Interview Narasumber Generasi Jaman Old

Haloha...

Well, kali ini aku pengen cerita dan berunek-unek seputar pengalamanku interview narasumber. Buat yang belum tahu, aku ini adalah writer merangkap reporter di salah satu media online. Mewawancarai narasumber udah jadi salah satu tugas kerjaku. Tentu, buat kepentingan artikel yang bakal aku tulis. Nah, beberapa kali kesempatan, kami akan membahas batik. Di situlah aku ditugaskan buat interview narsum yang berkompeten soal batik. Dua narsum yang pernah aku temui adalah Bu Neneng Iskandar (kurator batik) dan Bu Obin (tukang kain yang juga dekat dengan batik).

Dua narsum ini boleh dibilang merupakan generasi jaman old, kalau kata kids jaman now. Sosok mereka juga sangat legendaris sebagai seseorang yang paham akan batik (seenggaknya seperti itu yang orang-orang bilang). Trus, gimana pengalamanku interview mereka? Baiklah, kalian bisa bersiap diri baca semua komentar dan unek-unekku di sini.

Komentar pertama: It was frustating! Nggak ngerti gimana menjelaskannya secara rinci, yang pasti seenggaknya kita harus usia 30-40an kalau mau nyaman interview mereka. Kenapa? Karena usiaku yang masih 25-an nggak nyambung 'ngobrol' sama mereka. Yang pasti, salah sedikit ngomong (misal, kepleset ngomong apa atau sekadar basa-basi), kita bakal 'disemprot'. Kecuali, kalau emang kalian adalah pribadi kritis dan tahu segala, mungkin kalian bisa jadi best friend mereka.

Tapi karena aku kerja di media yang mostly bahas fashion, beauty, dan lifestyle, juga di waktu yang sama aku adalah pribadi yang nggak terlalu peduli dengan apa yang menurutku nggak kasih efek langsung buat diriku, jadi wajar kan kalau aku nggak tahu segala? Soal politik atau hot issue, pilihanku buat nggak peduli karena menurutku bikin pusing. Ngurusin hidup sendiri aja udah stres apalagi ditambah mikirin politik bla bla bla. Egois, I know. Tapi nggak berarti otakku kosong.

Ini nih yang sebenernya aku pengen protes sama dua narsum ini ketika mereka men-judge aku sebagai orang yang "nggak tahu apa-apa" dan perlu baca buku. Konsentrasi keinginan, keunikan, passion setiap orang kan beda. Nggak tahu politik, budaya, atau hot issue nggak berarti bodoh. Coba, kalau dibalik aku yang mbahas soal K-Pop dan pop culture lainnya ke mereka? Mereka pasti KICEP! Tapi balik lagi, mereka adalah people jaman old. Wajar kalau mereka berharap lebih ke kids jaman now alias generasi milenial buat lebih aware sama sekitar dan lebih banyak belajar.

Cuman ya itu, aku nggak suka di-judge. Kita datang baik-baik mau intervew, mau tahu profil mendalam soal mereka dan apa itu batik/kain, eh malah pribadi kita dikatain. Kan kezel yak? Aku sih appreciate banget sama nasehat yang mereka kasih, tapi nasehat mereka menyiratkan judgment. Seolah kebanyakan anak sekarang nggak tahu caranya belajar. Hey, belajarnya kita beda-beda keleus. Karena jiwa dan passion-ku lebih ke generasi remaja, makanya aku suka K-Pop, K-drama, dan semua yang memang lagi disukai saat ini. Which is bukan sesuatu yang worthless karena tetap ada kalangan yang membutuhkan info ini. Misalnya, saat aku nulis buat situs remaja.

So guys, kalau kalian ada rencana interview dua narsum tersebut, terutama bu Obin, just make sure buat mempersiapkan diri. Kalau kalian merasa terlalu dini buat wawancara narsum usia sepuh, mending hand over ke editor atau siapapun yang usianya lebih dewasa. Kalaupun kalian yang tetep maju, banyak-banyak pereuz deh. Jangan terlalu polos. Jangan tanya hal yang infonya udah banyak ditemukan di internet dan majalah. Ah, intinya siap-siap disemprot aja deh.

Walau KEZEL beudh tiap inget interview mereka, aku jadi punya pengalaman dan tahu gimana cara menghadapi orang. Karena yang dibutuhkan reporter adalah jadi bunglon, bisa tahu dan mengimbangi orang yang lagi kita hadapi. Buat orang yang pengalaman interview-nya minim kayak aku, emang agak susah sih. Tapi seenggaknya udah mencoba.

So yeah, itu pengalamanku. Semoga membantu ya. Ciaobella~

Saturday, October 28, 2017

When Your Life is a Chicklit

Haihooo...

Udah lama banget astaga nggak menyentuh blog yang udah lumutan ini. So here it is, I am here again to share a lil deep thought of mine.



Umurku udah di atas 25 tahun. Dan yang aku sadari, umur segitu tuh ceritanya miriiiiippp banget sama cerita-cerita di chicklit. Well, belum pernah baca chicklit sih seumur hidup, bacanya teenlit dulu pas SMP SMA hahaha. Tapi aku tahu, chicklit itu ya novel-novel soal perempuan dewasa umur 25 ke atas dan biasanya isi ceritanya nggak jauh-jauh dari dua poin utama ini: 1) jodoh dan 2) karier.

Yap, bener banget! Aku juga merasa di umurku yang sekarang ini aku jadi lebih fokus sama dua hal itu. But to be honest, karier ada di urutan pertama karena saat ini aku nggak begitu memusingkan masalah jodoh (aka nikah). A S L I, aku udah mulai kepikiran soal perjalanan karier. Umur jelas udah nggak muda. Trus aku berkarier di Jakarta. Posisi pekerjaanku bisa dibilang udah settle. Tapi aku kepikiran soal ke depannya. Banyak banget pertimbangan dan pikiran di otakku.

Sebenernya aku udah sangat contentful sama apa yang aku jalani sekarang. Bahagia deh pokoknya. But again, hidup di Jakarta nggak murah. Kebutuhan dan keperluan banyak, apalagi kalau mau sedikit ngikutin gaya hidup kekinian or simply pengen tampil fashionable dengan baju paling trendy. Semua butuh fulus heyy. Somehow, satu pekerjaan sebenernya nggak cukup buat nge-cover itu semua (ditambah banyak tagihan ini itu ye kan?). Oke, lupakan duit sejenak karena duit bisa dicari dan banyak ladang duit di Jakarta, we only need to dig them more.

Yang bikin insecure adalah mau dibawa kemana karierku? Apa aku harus tetep di titik ini? Padahal aku udah sangat sangat nyaman dan nggak mau pindah ke lain hati. Mengingat kepribadianku yang "agak aneh", aku juga takut buat keluar dari comfort zone ini. Tapi balik lagi, mau sampe kapan? Do I have promising better future if I stick around? I D O N T K N O W

Walau kepikiran soal ke depannya, tetep aja aku nggak bisa move on. Buat saat ini aku milih untuk tetap di posisi yang sama, karena aku sendiri merasa belum banyak belajar dan menyerap ilmu. Kadang cuma bisa nangis mikirin karier tapi karena aku anaknya pasrahan banget ya jadinya nggak bisa berbuat apa-apa selain berusaha di sisi lain tanpa harus meninggalkan zona nyaman ini. Satu, I feel it's my home.

Lanjut, J O D O H. Umurku udah sangat pantas buat nikah. Bukan pantas lagi sih, emang udah waktunya harus nikah. But hey, aku sama sekali belum ada pikiran serius ke arah sana. Ada banyak faktor kenapa aku belum pengen nikah (dan belum dikasih jalan sama Allah buat nikah). Salah satunya karena aku merasa jiwaku selalu remaja yang emang belum pantes nikah. Yang bikin aku bersyukur karena penampilanku nggak kayak umur 27 tahun. Hahaha.

Walau belum ada pikiran nikah, aku pun bersyukur karena sekarang aku punya seseorang yang aku sayang dan sayang aku. Hubungan yang pengen aku jalani aja dulu apa adanya. Ada dia di sisiku udah cukup buat aku bahagia lahir batin dengan keadaan aku sekarang yang melibatkan karier itu tadi. Saranghae, namja chingu <3 <3 <3

So yeah, inilah aku di titik bahwa cerita chicklit benar adanya dan ternyata sedang aku jalani :D

Saturday, August 26, 2017

REVIEW: Facial di Bella Skincare Plaza Indonesia - Penyesalan Terpahit Tahun 2017

Anyyeong...

Bulan Juni lalu adalah masa dimana aku punya kesempatan dapet treatment profesional di klinik kecantikan. Pertama, botoks tanpa suntik di EUROSKINLAB. Kedua, facial di Bella Skincare Plaza Indonesia. Nah, kali ini aku mau cerita pengalamanku facial di Bella Skincare. Oh iya, sebenernya aku facial di sana bukan buat tujuan review. Murni karena pengen perawatan aja. Jadi nggak ada foto pas aku facial. Tanpa babibu lagi, cusss aku ceritain.

Well, aku bisa facial di Bella Skincare karena punya voucher senilai 1 juta rupiah. Angka yang lumayan besar buat aku, dan normally aku nggak pernah treatment sampe ngeluarin duit sejuta. Ya ampun, treatment di klinik kecantikan aja jarang banget. Makanya excited banget buat nyobain treatment di sana. Apalagi Bella Skincare ada di Plaza Indonesia, which is bisa dilihat klinik kecantikan ini cukup premium.

Aku tadinya mikir voucher sejuta tadi bisa dipakai untuk treatment apapun, bebas milih (ya mungkin aku bisa nambahin kurangnya kalau emang harga treatment yang aku pilih lebih dari sejuta). Eh ternyata voucher ini cuma berlaku buat facial. Itupun facial yang biasa. Mbak resepsionisnya kasih aku pilihan lain buat facial serum yang harganya 1,3 juta. Yang artinya aku harus nambah 300 ribu buat dapet tambahan infus serum ke proses facial. Karena sejuta aja menurut aku udah mahal dan aku nggak ada concern apapun dari si serum, plus duit 300 ribu bisa dipake buat hal lain yang lebih penting, akhirnya aku pilih facial biasa aja. Astaga, facial aja ampe 1,3 juta. Ya kali. I'm not a socialite, girl.

Bella Skincare di Plaza Indonesia lumayan kecil kliniknya. Lokasinya pun ada di ujung, depan lift. Jadi, agak tersembunyi gitu deh. Kamar kliniknya pun terbilang kecil dan sempit. Pencahayaannya pun super duper remang-remang. Tapi kayaknya emang sengaja kayak gitu biar kita rileks. Musiknya juga bikin rileks.

Jadi guys, di sini aku mau negasin kalau facial seharga sejuta itu sama aja kayak facial biasa, yang mungkin bisa kita dapet dengan harga super murah di klinik kecantikan lain. Kalian tahu kan, facial udah pasti mukanya dieksfoliasi pakai scrub, dipencetin komedonya, dan dipakaiin masker. Nah, yang bikin pedih bagian pencet-pencet komedo nih.

Aku sih masih oke-oke aja komedonya diangkatin. Pas dipencet kan mata ditutup kapas, jadi nggak bisa lihat di cermin atau at least hp. Nggak sadar kalau mbak beauticiannya mencet juga ke arah pipi. Yang aku tahu, pas dipencet rasanya sakit pedes.

Selesai facial dan mulai makeup, yang aku sadarin mukaku jadi banyak bolong-bolong bopengnya. Karena pencahayaan ruangan yang temaram, kan jadi jelas bayangan bolongnya. Pokoknya super jelas! Padahal sebelum facial, bopeng di mukaku masih tipis, nggak sedalem dan sebanyak ini. Kanan kiri pula. Udahlah, habis itu aku langsung lemes. Dan sampai sekarang, bopeng di mukaku masih keliatan dan dalem. Tiap kali liat muka, rasanya sedih banget.

So guys, dari pengalamanku ini, sebaiknya kalian lebih berhati-hati kalau mau facial. Atau kalau bisa jangan facial deh, apalagi yang jerawatan atau beruntusan. Soalnya bagian pencet komedo dan jerawat itulah yang ninggalin bekas terpedih. Bopeng itu nggak akan pernah hilang seumur hidup. Meski yang aku tahu bisa dikurangi dengan tindakan laser, rasanya pasti nggak rela kan muka yang tadinya mulus jadi bolong-bolong kayak bulan? Niat untung, malah buntung. Semua gara-gara facial. KESEL!!!

Yang perlu dicatat, di sini aku nggak nyesel treatment di Bella Skincare. Yang aku sesalin adalah kenapa aku harus facial. Dan kebetulan, kenapa mbak beauticiannya maksa mencet di sana sini alias di pipi. Kan jadi beginiiii TT_TT *nangis darah*.

Ya sudahlah, yang udah terjadi ya udah. Nggak bisa diapa-apain lagi. Sekalipun kulitku udah nggak jerawatan lagi, bopeng ini tetep ada. Maybe in the future aku mau coba treatment buat ilangin bopeng ini. Tapi nggak di klinik kecantikan, tapi langsung ke dokter kulit yang paling tahu dan ahli soal kesehatan kulit (jadi nggak cuma cantik aja ya!).

Oke deh, semoga postinganku ini membantu. Nggak aku sertakan foto apa-apa ya. Soalnya emang nggak ada fotonya. Dan aku mau jadiin postingan ini sebagai bentuk duka. So, no photo at all.

Ciaobella~~

Friday, August 25, 2017

REVIEW: Botox Tanpa Suntik di EUROSKINLAB Kelapa Gading

Halooo...

Akhirnya kembali nge-blog setelah sekian lama menelantarkan blog ini #tsahhh. Oke deh, kali ini aku mau share pengalaman treatment botox without injection alias botox tanpa suntik di klinik kecantikan EUROSKINLAB Kelapa Gading. Btw, ini adalah treatment undangan liputan, jadi aku nggak dikenain biaya. Sekarang aku mau review treatment ini di blog supaya lebih kasual dan 'jujur'.

Kayak yang kita tahu, botox itu treatment anti-aging. Biasanya dipakai buat mengurangi penampakan keriput. Itupun cara pakainya dengan memasukkan botox ke dalam kulit pakai jarum suntik. Duh, mbayangin aja udah ngilu. Soalnya emang nggak suka sakit, apalagi suntik-suntik segala.

Bedanya sama botox biasa, botox dari EUROSKINLAB ini nggak pakai jarum suntik alias non-injectable botox. Namanya IBFT (Interdermal Botox Facial Therapy). Emang bisa? Bisa dong. Apalagi sekarang banyak banget artikel yang nyebut ada produk-produk kecantikan yang fungsinya sama kayak botox. Artinya treatment botox tanpa suntik udah pasti sangat memungkinkan. Yang terpenting: NGGAK SAKIT.

Perbedaannya lagi sama botox biasa, IBFT sangat disarankan buat usia 25 tahun ke atas, usia yang produksi kolagennya mulai berkurang. Jadi, fungsinya lebih ke merawat, bukan memperbaiki. Kayak namanya, treatment ini sama sekali nggak melibatkan jarum suntik. Prosesnya justru serupa kayak facial biasa, tapi ditambah dengan langkah pemberian botox dan serum khusus. Oh iya, IBFT ini bakal memasukkan cocktail botox dan serum ke dalam kulit. Ini nih poin penting dari treatment ini.

Oke deh, langsung aja review-nya ya!

Apa yang aku dapet?

Sebelum ke proses treatment, aku konsultasi dulu sama dokter soal jenis dan kondisi kulitku. Dari situ dokter akan menentukan serum apa yang sesuai sama kulitku.

Btw, ada empat serum yang tersedia, yaitu rejuvenation serum, anti-acne serum, anti-aging serum, dan lightening serum. Dilihat dari kondisi kulitku yang banyak hitam-hitam bekas jerawat, dokter nyaranin aku pilih lightening serum. Ya udah akhirnya aku pilih serum buat mencerahkan kulit.

botox tanpa suntik

Facial

Prosesnya kayak facial pada umumnya. Cleansing, toning, extraction, and masking. Ya gitu, yang namanya facial pasti dipencetin komedonya. Extraction ini diperlukan biar pori-pori bersih, jadi nanti botox dan serumnya bisa meresap dengan baik ke dalam kulit. Bisa kalian tebak, dipencetin komedonya itu sakit. Ini sih bukan sakit disuntik, tapi dipencet-pencetin TT_TT

Setelah itu, masuk ke proses inti: memasukkan botox dan serum. Buat proses ini, yang melakukan dokter langsung, bukan beautician. Cara memasukkannya pakai alat bernama DermaElectroPoration. Yang jelas ini bukan alat dengan sinar laser, ya. Serum yang berbentuk gel diusapkan ke seluruh wajah pakai alat ini. Rasanya hangat-hangat gimanaaa gitu. Terus cekit-cekit kayak digigit semut, tapi masih bearable. Nggak sakit kok. Dokter pun komunikatif dan selalu nanya apakah rasanya sakit apa nggak.

Selesai, dilanjutin sama masker dengan manfaat lightening. Masker yang dipakai disesuaiin sama jenis serum yang dipakai tadi. Supaya hasilnya lebih maksimal, pastinya. Yang bikin nyaman, beautician kasih pemijatan di wajah, leher, dan bahu. Rileks deh, walau at the same time berasa pegel juga sih. Hahahaha.

botox tanpa suntik

Indikasi

Setelah treatment, nggak boleh pakai makeup dulu. Tujuannya biar serum tadi bekerja dengan sempurna. Overall, nggak ada down time after treatment kok. Bisa langsung buat beraktivitas dan malam harinya bisa pakai skincare pribadi.

Review

Diklaim, sekali treatment udah menunjukkan perbedaannya. Walau sebenernya treatment ini harus dilakukan 6 kali dengan interval waktu 1 minggu (FYI, harga per paket 6x IBFT sekitar 21 juta rupiah). Dan aku cuma dapet 1x treatment aja. Yang aku perhatikan sih nggak ada perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah treatment. Bekas jerawatku masih gede item-item terlihat jelas. Kulit cerah pun nggak begitu kentara (mungkin karena kulitku kusamnya berlebihan T_T hahaha becanda). Tapi yang pasti, kulit jadi lebih halus.

Buat yang berduit dan pengen ngerawat wajah tanpa buru-buru pengen ngelihat hasilnya, treatment IBFT ini oke sih buat dicoba. Tapi kalau pengen hasil instan, ya balik lagi ke botox konvensional yang pakai jarum suntik. Kalau aku sih nggak akan coba dua-duanya. Alasannya, pertama nggak punya uang sebanyak itu buat treatment. Kedua, takut sakit disuntik. Ketiga, aku lebih pilih treatment di rumah aja pakai masker. Hahahaha.

EUROSKINLAB Kelapa Gading
Alamat: Komplek Bukit Gading Indah Blok A10-11, Kelapa Gading, Jakarta Utara
Instagram: @esl_euroskinlab

Semoga review-ku ini membantu ya! Ciaobella~~

Friday, April 7, 2017

Need A Guy By My Side

Up and down dalam hidup itu udah biasa. Yang nggak biasa adalah pas down nggak punya siapa-siapa buat diajak sharing. Punya sih, temen deket cewek. Cuman kan pasti sensasinya beda dibanding curhat sama cowok. Bentar, bentar. 

To be completely honest, gw lebih nyaman cerita sama cowok karena, you know, cewek tends to be rempong dan yeah selalu ada aja hal-hal yang mereka nasehatin. Sementara cowok, gimana sih tipikal cowok, lo juga pasti tahu mereka nggak rempong. Karena sejatinya gw cuma pengen didenger dan cowok bisa ndengerin tanpa cerewet nyuruh atau ngatur gw harus begini begitu.

Get it what I mean?

Sebenernya nggak perlu punya pacar buat bisa curhat sama cowok. Temen deket yang cowok juga gpp kok. Tapi gw belum nemu lagi cowok yang bisa buat gw nyaman cerita ini itu tanpa jaim. Curhat colong-colongan atau masalah tertentu gw sih masih bisa ke temen cowok di kantor. Tapi kalo curhat sampe ke dalem-dalem, nggak adaaaaaa orang yang bisa dicurhatin :(((((

Ujungnya? Cuma bisa mengkamuflase curhatan gw dalam bentuk cerpen yang gw tulis secara bersambung di Line. Ya sutralah. Mau gimana lagi. Kalo lagi down dan nggak ada yang bisa diajak curhat, I just need to keep it by myself.

Monday, March 13, 2017

Review: Laser Eufoton untuk Wajah Berjerawat di JT Aesthetic Clinic

Assalamualaikum....


Beberapa waktu lalu, aku pergi ke JT Aesthetic Clinic buat treatment. Soalnya waktu itu mukaku lagi paraaaahhh banget. Mukaku emang aslinya jerawatan. Muncul jerawat satu dua tiga itu udah biasa. Tapi yang kemarin itu luar biasa. Jerawatnya gede-gede dan banyak, bikin mukaku jadi merah-merah ketutupan jerawat. Makanya, aku langsung kepikiran treatment, buat membasmi jerawat super duper nyebelin ini. Yang bikin tambah nyebelin item-item bekas jerawatnya like forever to fade :(

JT Aesthetic Clinic ada di Otista, Jakarta Timur. Sementara tempat tinggalku di Kemang. Lumayan jauh sih, mungkin karena nggak biasa ke sana jadi kesannya jauh banget. Tapi it doesn't matter, yang penting jerawat di mukaku harus ilang! *semangat 45*

Oh iya, JT Clinic ada dua di Jl. Otista 3. Buat yang treatment wajah, kliniknya yang rumah no.36, dekat Indomaret - Alfamart. Dari luar kelihatan kayak rumah biasa, dan nggak ada plang jadi agak susah ditemukan kalau itu adalah klinik. Setelah salah dateng ke JT Clinic satunya, dan nanya-nanya ke orang sekitar, akhirnya aku sampai juga di JT Aesthetic Clinic. Sampai salah klinik hahaha, maapkan soalnya belum pernah ke daerah situ dan belum pernah ke JT Aesthetic juga.

Kenapa aku pilih treatment di JT Aesthetic Clinic? Soalnya, yang punya klinik ini adalah dokter. Jadi nggak usah ragu sama rangkaian treatment yang ditawarkan, udah pasti terpercaya. Secara yang punya dokter kan... Trus aku merasa lebih aman dan nyaman aja treatment di sana, soalnya mulai dari receptionist, dokter, sampai therapist-nya pakai hijab semua. Aku kan pakai hijab, jadi berasa kayak satu dunia gitu. Hahaha.

Ruang treatment-nya juga besar lho. Nggak kayak klinik kecantikan lainnya yang cuma ada 2-3 kamar, kalau di JT Aesthetic, kamar treatment-nya banyak. Bukan dalam bentuk bilik sih, tapi lebih ke dibatesin sama gorden. Dan yang bikin kayak berasa di rumah tuh kain-kain tubuhnya shabby chic banget, floral gitu. Me likeyyyyy!

Daripada makin ngelantur, langsung aja ya aku share pengalamanku treatment di JT Aesthetic Clinic.

What kind of treatment?
LASER EUFOTON

Sebelum melakukan treatment, aku konsultasi dulu sama dokter. Konsultasi ini perlu, soalnya buat menyesuaikan treatment dengan kebutuhan kulit. Karena waktu itu jerawatku lagi "panen", akhirnya dokter nyaranin aku buat treatment Laser Eufoton.


Benefits:
Laser Eufoton bisa ngilangin bekas jerawat, soalnya bekas jerawatku lumayan banyak. Laser ini juga bisa matiin jerawat aktif. Jadi jerawat-jerawatku yang waktu itu lagi mateng bisa langsung kempes. Yang nggak kalah penting, laser ini mengikis kulit mati juga, jadi bakal mengurangi munculnya jerawat in the future. Dan nggak perlu disebut pun, laser bikin muka kelihatan lebih cerah.

Setelah dicek tekanan darah dan angkanya ideal, aku langsung dianter ke ruangan treatment di lantai 2. Step-by-step treatment Laser Eufoton sebagai berikut:

1. Muka dibersihin dulu dari makeup dan kotoran. Karena saat treatment, muka harus bersih.

2. Pakai penutup mata. Bukan kacamata hitam, lebih kayak kacamata renang, tapi tertutup. Tujuannya biar melindungi mata dari sinar laser. Sinar laser kena mata bahaya ya shayy. Tapi buat kulit bagus shayy.

3. Dokter mulai menembakkan sinar laser ke area bermasalah, bagian jerawat dan bekas jerawat. Oh iya, treatment ini nggak pakai gel pendingin. Walau gitu, rasa panas sinar lasernya cuma hangat kok. Nggak panas membakar. Tapiiii, pas lasernya menyinari jerawat, beuhhh, perih cekit-cekit. Tapi masih bearable, nggak sakit banget. Pokoknya, yang penting, tuh jerawat MUSNAH!

4. Ini kelanjutan dari proses laser. Dokter pakai alat ini, yang sayangnya aku lupa nanya ini proses apa.

5. Aku dipakaikan masker. Enak lho maskernya, dingiiiinnn. Kulit jadi berasa rileks.

6. Setelah masker dibersihkan, aku dipakaikan sunblock dan voilaaaa! Hasilnya? Scroll terus ke bawah buat tahu hasilnya.

Result:
1. Setelah laser, kelihatan banget mukaku langsung cerah. Pokoknya beda deh sama sebelum treatment.

2. Jerawatnya memang jadi pecah, tapi belum sepenuhnya sembuh hilang seketika.

3. Bekas jerawatnya, hmm... nggak tau ini sugesti aja atau betulan, tapi emang agak pudar sih hitam-hitam bekas jerawatnya. Tapi pudarnya dikit, jadi masih kelihatan merah-merah mukaku. Emang nggak ada yang instan di dunia ini, kecuali mie instan dan makanan cepat saji lainnya. Laser ini nggak langsung ngilangin bekas jerawat. Jadi perlu ada treatment lanjutan buat bisa bener-bener ilangin bekas jerawat.

4. Setelah 2-3 hari yang seharusnya hasilnya bisa lebih terlihat, aku sih ngerasa nggak ada efek apa-apa. Kulitku nggak ngelupas, karena efek pengikisan kulit mati. Opacity bekas jerawatku juga masih sama kayak pas habis treatment.

Hasil laser eufoton
Kesimpulan: satu yang kelihatan banget hasilnya adalah muka jadi cerah. Untuk jerawat dan bekas-bekasnya nggak gitu ngefek. Mungkin aku harus rutin laser tiap bulan biar muka bener-bener bersih. Lagian, kulitku tuh jenis kulit yang agak lama healing-nya. Kalau ada bekas jerawat, ilangnya kayak harus sampe bertahun-tahun dulu. Hahaha lebay. Tapi emang gitu kulitku.

Well, itu pengalamanku treatment laser eufoton di JT Aesthetic Clinic. Buat yang tertarik treatment di sana, boleh banget. Macem-macem treatment-nya bisa dilihat di jt-aesthetic.com. Harganya relevan. Nggak mahal-mahal banget. Cucok. Semoga pengalamanku treatment laser wajah di JT Aesthetic Clinic ini membantu ya. Ciaobella~

Monday, March 6, 2017

THE GREATEST BLESSING

Assalamualaikum


Yang namanya putus sama pacar pasti sedih, apalagi kalau misal kita masih cinta. Nah, gw juga ngerasain banget tuh dulu sedih dan depresinya pas dia ninggalin gw. Berasanya kayak langit runtuh dan nggak bisa hidup lagi. Serasa kayak dunia gw diambil dan nggak nyisa apa-apa buat gw. TAPI ITU DULU.

SEKARANG? Justru gw sangat sangat sangat bersyukur bisa putus dari dia. Yang dulunya putus itu menyedihkan, malah sekarang jadi THE GREATEST BLESSING IN LIFE thus far. Dan satu yang gw sesalin adalah: kenapa gw nggak move dari dulu? Kenapa gw harus menangisi orang 3 tahun lamanya? Kenapa gw terus-terusan ngarep sama orang yang ternyata "xampah"?

Oke, nggak usah menyesali lagi yang udah-udah. Sekarang, gw merasa sangat bahagia dengan hidup gw. It's okay bahwa gw belum menemukan tambatan hati, tapi "bermain" dengan cowok-cowok somehow mengisi kekosongan itu. Dan untuk pertama kalinya setelah putus, gw bisa jatuh cinta sama cowok. Karena dulu gw selalu melihat semua orang sebagai cewek. Bisa ngerasain lagi asem manisnya jatuh cinta dan deket cowok tuh ya ampun, kayak mayat yang hidup lagi. Hahaha.

Jujur, gw pengen banget hapus sejarah gw dulu sama dia. Gw nggak mau inget-inget. Udah enek dan jijik banget. Gw pengen anggep nggak pernah ada dia di hidup gw. Dan gw nggak mau berhubungan apapun lagi soal dia. Mau dia ini kek, itu kek, I don't care and even don't wanna know!!! Kalau flashback ke belakang, rasanya kayak buang-buang waktu banget mencintai orang yang................................ (di sini gw pengen sebutin satu-satu jeleknya dia tapi nggak etis, ya udah gw simpen aja).

Oke, udah nggak ada dia di ingatan gw. Yang penting gw bahagia dan bersyukur nggak sampe nikah sama dia. Karena masih banyak cowok yang jauuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhh lebih baik dari dia. Yang ternyata ada cowok yang jauuuuuuuuuhhhhhhhhhhh lebih cocok sama gw diliat dari sifat, kesukaan, dan cara pandang.

That's it. Gw mau berbagi ini aja. I'm happy with my life :))))

Monday, February 6, 2017

BAPER BAPER BAPER!!!

Kayaknya hidup gw cuma muter-muter di antara dua ini: MOVE ON dan BAPER.

Pertama. Kalau udah sayang sama orang, gw nggak gampang move on dari orang itu. Pokoknya nggak bisa pergi dari dia. Lingering terus kayak oktopus.

Kedua. Apa-apa selalu dibaperin. Mau sananya bercanda kek, asal ngomong kek, biasa aja kek, selalu sukses bikin gw baper.


Kali ini gw mau bahas baper. Ibarat baper never ends, nggak kelar-kelar bapernya. Sampe kesel sendiri. Siapa lagi yang dibaperin kalau bukan M. Beuh, ASELI GW BAPER TINGKAT DEWA!

Apa sih yang gw baperin dari dia? Yang perlu dicatet, kalau perlu ditebelin, digarisbawahi: bapernya bukan berhubungan sama suka-sukaan ya. Tau sendiri dese nggak biasa. Bapernya lebih ke, "kenapa sih dia memperlakukan gw kayak gini banget?"

Oke deh, gw list satu-satu apa aja yang bikin gw baper sama dia.

1. Kalau misal ketemu, dia ke temen-temen lainnya nyapa dengan hangat dan ceria sampe bisa peluk-pelukan juga. Tapi giliran ke gw, dia nggak nyapa kayak ke temen lain. Dia malah 'ngejek'. Padahal gw yang jarak posisinya lebih deket ke dia, eh gw yang paling terakhir disapa. Kesel kan? Kesel banget lah. Gw baper!

2. Dulu waktu masih berhubungan hangat-hangatnya, dia sering banget minta bantuan gw. Gw nggak mikir dia manfaatin gw. Yang ada malah gw mikirnya gw jadi temen yang cukup berarti buat dia, yang bisa dia percaya buat bantuin dia. Baper kan?

3. Pelit banget nge-like Instagram gw. Giliran temen-temen yang lain, di-like mulu fotonya. Gw boro-boro. Ih, nggak sampe 10 foto kali dia nge-like Instagram gw. Kan gw jadi merasa dia pilih kasih. Makanya, gw suka baper sendiri tiap buka Instagram sama Path.

4. Tiap dia kesel, gw langsung baper. Asli, gw takut banget dia kesel sama gw. Ga tau kenapa. Mungkin karena gw takut kehilangan.

5. Tiap ketemu dia atau dalam keadaan cuma berdua aja sama dia, gw merasa dia salting. Mungkin itu perasaan gw aja. Dan jujur gw baper sama pikiran gw itu. Habisnya gimana dong. We were in awkward situation. Padahal, kita hampir tiap hari ngobrol di line. Trus pas ketemu berdua doang, tiba-tiba kayak bingung mau ngomong apa, mau gerak kayak gimana. Gw sendiri juga salting sih wkwkwkwk :D

6. Nggak ngerespon gw. Oke, kita lagi berantem (sebenernya dia yang lagi marah dan kesel sama gw). Dan cara apapun yang gw lakuin buat reach dia nggak pernah ditanggepin. Astagaaa, ini gw bapernya udah tahap sedih kayak habis diputusin pacar. Sampe nangis kalo lo pengen tau! Ice princess cedih ditinggal wolverine :'(

Kenapa gw bisa sedih banget ditinggalin M? Coba deh lo bayangin. Lo temenan sama dia, suka ngobrol dan curhat sama dia, apa-apa cerita sama dia seolah dia itu buku diary lo, otomatis di mata lo dia adalah temen yang sangat lo percaya. Lalu tiba-tiba dia ngehindarin lo. Gimana perasaan lo? Sedih kan?

Gw makin baper nih gara-gara obrolan singkat gw sama Tiara. Temen gw satu ini emang paham banget deh soal beginian.

Me: Tiara, aku terluka banget deh diginiin sama dia T_T

Tiara: Ya kamu kan udah ngerasa deket banget sama M jadi ya kayak pacar sendiri. Berantem ya sedih

Jlebbbb! Tiara ngomong gitu kayak nyamber hati gw pake petirnya Zeus. Wewww!

BAPEEEEERRRRRRRR!

Demi apa, kalau ada acara ketemuan dan kumpul-kumpul lagi, kalau ada M, gw nggak mau ikutan. Huaaaa, gw emang kangen dia. Tapi kalau ketemu, gw nggak punya nyali deh. Gw takut dia memperlakukan gw kayak di poin nomor 1 tadi. Ujung-ujungnya baper!

Yaudah deh, segitu dulu cerita baper gw. Kalau ada tambahan lagi, ntar gw update. Bye!

Sunday, January 15, 2017

Review: Garnier Light Complete Serum Super Essence dan Serum Cream SPF19/PA+++

Assalamualaikum

Beberapa bulan lalu aku dikirimi paket sama Garnier, isinya Serum Super Essence dan Serum Cream SPF19/PA+++. Basically, kulitku ini tipe kulit yang cenderung 'bebal' alias cocok pakai produk apa aja. Jadi aku seneng banget dapet rangkaian produk Garnier ini. Apalagi aku pernah denger cerita temen, katanya temen dia pake Garnier aja mukanya jadi mulus dan cerah. Aku sendiri juga sering pake facial wash Garnier, tapi belum pernah nyobain krimnya. Jadi, kali ini aku mau review dua produk Garnier Light Complete, yang katanya bisa bikin kulit cerah dalam 3 hari lewat Program 3 Hari-nya.

garnier light complete
A video posted by Monica Dian Novelia Jatmiko (@monicadnj) on



Garnier Light Complete Serum Super Essence

garnier light complete super essence serum

:: Verdict ::

Super Essence adalah serum pencerah yang bantu kurangi noda hitam. Dibanding produk Light Complete lainnya, serum ini punya kadar serum White Speed dan vitamin C 100 kali lebih tinggi, juga PROVEN Active yang bisa kurangi melanin hingga 85%.


:: Texture & Formula ::

Kayak serum pada umumnya, Serum Super Essence ini juga teksturnya ringan. Ringan banget malah, almost like water tapi konsentratnya lebih tinggi. Dia runny banget. Pas diaplikasiin ke wajah, aku akuin dia cepet diserap kulit. Hasilnya pun bener-bener matte, nggak ada sensasi kulit jadi keliatan greasy atau lengket.


Aku pernah lupa nggak bawa moisturizer dan cuma ada serum Super Essence ini di pouch. Mau nggak mau aku cuma pake serum aja biar kulit nggak kering-kering amat di ruangan ber-AC. Aku sih mikirnya serum ini nggak bakal ampuh mencegah kulitku kering. Ternyata aku salah. Walau cuma pake serum ini, kulitku tetep lembap dan nggak kering lho di bawah AC. Walau dia kasih hasil matte, tapi dia melembapkan dari dalam kulit.


Garnier Light Complete Serum Cream SPF19/PA+++

garnier light complete serum cream

:: Verdict ::

Mengandung White Speed serum, dapat menyerap dan bekerja lebih cepat. Pure Lemon Essence untuk bantu atasi kulit kusam. SPF19/PA+++ untuk 19 kali perlindungan terhadap sinar UVA/UVB.






:: Texture & Formula ::

Krimnya berwarna putih dengan tekstur yang ringan dan nggak bouncy alias nggak pekat dan kental banget. Yang aku suka dari krim ini adalah hasilnya bener-bener matte di wajah. Nggak ada kesan lengket atau berminyak. Dan emang sih bikin wajah jadi cerah soalnya dia kasih white cast, tapi putihnya masih bearable.


Kadang aku sempet ogah pake krim ini kalau kulitku lagi kering soalnya dia kan matte, takut nggak ampuh melembapkan. Tapi nyatanya krim ini nggak gitu bikin kulit kering. Apalagi aku makenya barengan sama Super Essence juga. Jadi cukup melembapkan.


Dipakai seharian, apalagi kalau muka udah berminyak, produksi minyaknya yang aku perhatiin sih jadi nggak berlebihan ya. Dengan kata lain, produk ini nggak bikin mukaku jadi berminyak banget. Soalnya aku juga sering pake krim khusus kulit kering, dan hasilnya dipake seharian mukaku jadi berminyak dan super duper mengkilap. Hahaha. Tapi krim Garnier ini nggak. Oh iya, karena hasilnya matte, jadi menurutku enak buat langsung dipakein makeup.


Review

Udah sekitar 3 bulan lebih aku pake Garnier Light Complete ini. Nggak single use dan nggak rutin tiap hari karena aku selingi sama produk lain. Soalnya harus aku sesuaiin sama kondisi kulitku saat itu dan mood. Hahaha pake krim aja harus mood-moodan lho. 

Oke, pertama bahas Program 3 Hari, yang diklaim bisa bikin wajah cerah dalam 3 hari. Well, mungkin 3 hari waktu yang super singkat buat tahu kinerja produknya. Aku sendiri nggak melihat ada perubahan signifikan selama 3 hari pake. Kebetulan aku punya banyak noda hitam bekas jerawat, dalam 3 hari jelas nggak ngaruh ya. Tapi untuk wajah cerah karena warna putih krimnya, okelah betul. Wajah jadi nggak kusam-kusam amat.

Aku akuin, noda bekas jerawatku agak memudar walau nggak keliatan banget perbedaannya. Kayaknya, tanpa produk apapun, noda bekas jerawat juga bakal pudar dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Tapi dibantu sama produk, pudarnya jadi lebih cepet. Aku sendiri nggak gitu lihat Garnier Light Complete ini bantu mencerahkan noda hitamku (atau aku emang nggak notice?).

So far yang aku suka dari dua produk ini adalah enak dipake buat jadi pelembap harian. Urusan bisa bantu kulit jadi cerah dan ngilangin noda hitam, aku nggak gitu concern karena, yeah, basically noda bekas jerawat di mukaku emang susah banget ilangnya. Hahaha.

Well, buat yang lagi nyari pelembap dengan harga terjangkau, mungkin review-ku ini bisa membantu. Apalagi Garnier gampang banget didapet di supermarket. Udah deh, it's kinda my go-to cream. Selama kulit lembap dan bahagia, what do you expect more? ;)
 

Pretty Petite Template by Ipietoon Cute Blog Design