Sunday, January 14, 2018

Journaling dan Bullet Journal Bantu Atasi Stress dan Depresi

Annyeong~

bullet journal adalah


Di akhir Desember 2017 kemarin, sekaligus persiapan menghadapi 2018, aku mulai melakukan rutinitas baru: JOURNALING. Aku termotivasi bikin jurnal karena aku baca artikel kalau journaling itu bagus buat orang yang overthinking. Mengingat selama ini aku selalu spoil soal hidupku cara dengan nulis di media sosial (kebanyakan di Line karena jarang dibaca orang), aku pikir nggak ada salahnya aku nyoba journaling. Jauh lebih positif daripada curcol di media sosial.

Berdasarkan artikel yang aku baca di Glamour UK, life coach Annabel Gledden bilang kalau hasil riset membuktikan keefektivan mengeluarkan pikiran melalui journaling. Tips dari dia adalah tulis semua apa yang ada di pikiran kita, tulis terus-menerus mulai dari hal sepele sampai yang serius. Buat orang yang overthinking atau kebanyakan mikir, cara ini bisa bantu ngatasinnya. Coba bayangin (atau mungkin kamu juga ngalamin), kebanyakan mikir bikin otak jadi panas, trus lama-lama stress. Bener nggak?

Sesuai yang udah pernah aku bahas di postingan sebelumnya, aku menderita anxiety. Pada dasarnya, aku punya kepribadian introvert. Yang nggak bisa aku pungkiri, aku punya banyak banget insecurity, terutama soal cowok dan masa depan. Insecurity itu bikin otak berilusi tentang sesuatu yang belum atau bahkan nggak terjadi. Yang akhirnya menimbulkan kecemasan berlebih. Alhasil jadi lebih mudah sedih dan nangis. Hal ini terjadi berlarut-larut akhirnya bikin stress dan depresi hingga berujung ke pikiran "pengen bunuh diri".

Dari penjelasan itu mungkin kalian berpikir, "Lho, itu udah tau? Kok masih sedih?" Well, aku emang paham apa yang aku alami. Tapi nggak selamanya aku bisa kontrol emosi. Namanya manusia, sadar nggak sadar pasti bakal kemakan sama kondisi mental yang labil. Dan mungkin karena hal tersebut udah berjalan selama aku hidup, yang namanya insecurity, anxiety, sedih berlarut-larut, galau susah banget diminimalisir.

bullet journal adalah

Sampai akhirnya aku nyoba buat journaling. Awalnya, aku pakai buku planner biar hidupku yang carut-marut ini sedikit terorganisir. Basically monthly planner gitu. Tapi aku belum merasa puas, kayak masih ada yang kurang. And then YouTube recommended me videos of making bullet journal. Dari situlah terpikir buat bikin buku diary dalam bentuk bullet journal.

Salah satu contoh bikin bullet journal bisa dilihat di video ini:


Apa itu bullet journal? Menurut definisiku, bullet journal itu semacam planner atau agenda, hanya aja kita dikasih lebih banyak kreativitas di dalamnya. Journaling bisa ditulis di mana aja. Bedanya, bullet journal lebih ke bikin sendiri planner yang kita mau. Jadi nggak harus mengandalkan planner yang udah ada di buku planner. Karena bikin sendiri, kita bisa tambahin gambar-gambar sesuai kreativitas to make it more interesting.

Buatku, bullet journal jadi lebih efektif buat nulis diary ketimbang agenda (soalnya aku anaknya go with the flow, mau ngerencanain apa aja juga nggak bakal jalan karena spontanitasnya). Kalau biasanya apa-apa aku tulis di Line, sekarang aku tulis dengan tulisan tangan di bullet journal. Apa aja. Terutama sih kalau lagi sedih, galau, dan nggak ada teman cerita. Seolah kertas-kertas di buku jurnal jadi sahabat dan pendengar yang baik (huhuhu sedih T_T).

Menariknya, bullet journal juga kasih kita ruang untuk memotivasi diri sendiri. Aku bisa nambahin quote-quote yang membangun. Mencatat daftar yang harus aku syukuri. Menulis hal-hal positif yang bisa mendorong mundur semua insecurity-ku. Ibarat kata, bullet journal menjaga aku tetap on track supaya nggak selalu nurutin emosi.

bullet journal adalah
Setelah dijalani, memang ada sensasi lega pas nulis. Like, semua sumbat di hati dan pikiran keluar semua. Selain itu, yang tadinya kita ada waktu buat galau, waktunya habis buat menggambar di bullet journal. Nggak hanya menggambar sih, tapi juga hand lettering. Bikin bullet journal di waktu yang sama juga jadi belajar calligraphy. Hahaha. Pikiran juga jadi lebih positif, kayak udah nggak ada kelabunya. Thanks to motivating quotes.

Journaling memang jadi semacam mental terapi. Tapi nggak selamanya journaling memperbaiki "gangguan" itu. Karena tetap ada saatnya kita merasa insecure dan memunculkan aura negatif. Balik lagi, karena kita manusia. Buatku, fungsi journaling lebih jadi reminder, buat ngingetin kita untuk terus positif dan belajar dari kesalahan. Juga supaya nggak overthinking. In short, journaling bantu mengurangi stress atau bahkan mencegah stress muncul.

Buat yang punya kepribadian introvert (nggak bisa terbuka sama orang lain), masalah overthinking (apa-apa dipikirin banget), cemas berlebih, stress, depresi, dan bahkan punya pikiran buat bunuh diri, cobain journaling deh. Siapa tahu membantu buat mengatasi semua kekalutan mental itu. YOLO, make it to the fullest. Nggak masalah kalau nggak happy, yang penting content. Maapkan aku sok bijak. 

bullet journal adalah

Oh iya, berkat bikin bullet journal aku jadi terobsesi sama stationary lagi lho. Jadi suka beli pulpen warna-warni, sticker, washi tape, dan alat tulis lucu lainnya. Rasanya happy ketemu pulpen warna-warni. Tipsku, bikin bullet journal sebaiknya dilakukan di buku yang kertasnya punya motif titik-titik atau dotted. Akan lebih bagus buat gambar karena ada guideline-nya, tapi nggak begitu kelihatan. Daripada pakai kertas bergaris, I think dotted paper is better. Bisa beli di Muji atau Miniso. Aku rekomendasiin beli pulpen di Miniso karena 30.000 bisa dapat 3 pulpen. Save more money, right? Nah, kalau mau beli stationary kawaii lucu-lucu dan murah, beli aja di Instagram @eternal.stuff.

Semoga pengalamanku journaling dan bikin bullet journal membantu teman-teman yang juga mengalami kekalutan mental ya :) Tetap semangat. You're not alone.

Saturday, January 13, 2018

Review: Laneige Fresh Calming Toner

Annyeong~


laneige fresh calming
Laneige Fresh Calming (ki-ka: cleanser, morning mask, serum, toner)

Akhirnya aku punya produk Laneige Fresh Calming yang udah rilis di Indonesia: Laneige Fresh Calming Toner! *dancing* Itulah kalimat pertama buat nunjukin excitement-ku nyobain seri terbaru dari brand Korea ini. Aku udah tau Laneige ada range skincare baru karena lihat di online shop, jauh sebelum Laneige Fresh Calming masuk Indonesia. Aku excited banget pengen nyobain produk ini karena dia diformulasiin buat kulit berminyak tapi dehidrasi. Nah lho, gimana tuh maksudnya? Agak membingungkan ya, berminyak tapi dehidrasi?

Tadinya aku juga nggak familiar sama kondisi kulit kayak gini. Tapi setelah nonton skincare guru di YouTube (my fave is Liah Yoo, you can check her channel out here), aku jadi paham. Basically, kulit dehidrasi bisa dialami sama semua tipe kulit, baik itu berminyak, kering, kombinasi, dan lain sebagainya. Di kulit berminyak, dehidrasi bisa memicu kulit jadi LEBIH berminyak. Gimana bisa?

Sebelum masuk review, let me explain a lil bit soal kondisi berminyak tapi dehidrasi ini ya. Ayo akuin, kalau kulit lagi berminyak, kita pasti ngerasa muka kayak kotor banget. Mengkilap, gerah, risih yang bikin kita cenderung jadi lebih sering cuci muka buat ngilangin minyak berlebih di wajah. Di samping itu, pemakaian produk yang bikin kulit keset juga berpengaruh lho. Karena "cara yang salah ini", permukaan terluar kulit jadi kehilangan kelembapan alaminya. Itulah sebabnya, tubuh memacu kulit buat memproduksi lebih banyak minyak untuk menutupi kekurangan moisture di kulit. Alhasil, muka jadi lebih berminyak. Udah tipenya kulit berminyak, dehidrasi, produksi sebum bertambah gila-gilaan, nggak heran dong kalau kita merasa susah banget mengontrol kilap minyak di wajah.

So, yang kita butuhkan sebenarnya bukan produk skincare yang menjanjikan buat mengurangi produksi sebum. Yang benar adalah produk yang melembapkan namun formulanya untuk kulit berminyak. Contohnya kayak rangkaian Laneige Fresh Calming. Nah, udah terdengar make sense kan? Setelah pakai kurang lebih satu bulanan, aku bisa share pengalamanku pakai tonernya. Langsung aja simak review Laneige Fresh Calming Toner versiku. Hope it helps~

Laneige Fresh Calming Toner
Laneige Fresh Calming Toner

PACKAGING / KEMASAN

Pas pertama kali lihat sekilas Laneige Fresh Calming Toner, aku kira kemasannya itu berupa glass atau kaca. Ukurannya gede banget lho. Isinya 250 ml. Jadi kelihatannya tuh kayak sturdy berat banget. Tapi, setelah diamati, botolnya itu sebenarnya adalah plastik tebal dan kokoh. Jadi kalau jatuh nggak akan pecah, which is good.

Bentuk botolnya sendiri bukan bentuk spray atau flip flop (yang dicetek-cetek -- maapkan bahasanya hahaha). Bentuknya lebih ke botol biasa, dengan tutup yang diputer. Kayak toner kebanyakan, ngeluarin produknya dengan cara dituang.

TEKSTUR, FORMULA, DAN AROMA

Selayaknya toner pada umumnya, Laneige Fresh Calming Toner juga punya tekstur cair seperti air. Literally water. Tipe airnya juga nggak pekat, bener-bener kayak air. 

Laneige Fresh Calming Toner dibuat dari kandungan Lychee Extract dan Deep Sea Water. Lychee Extract berfungsi untuk melembapkan sekaligus menenangkan kulit. Sedangkan Deep Sea Water bertugas melindungi skin barrier atau lapisan pelindung kulit (yang emang beneran harus dijaga karena dia yang bikin kulit kita tegar meski diterpa berbagai macam ancaman).

Toner ini nggak mengandung mineral oil, animal based-ingredients, pewarna buatan, dan triethanomaline. Yeah, tipikal produk K-beauty kan, which I love and obsessed with.

Karena mengandung ekstrak buah lechi, nggak heran wanginya segar banget kayak lechi. Tau Buavita Lychee nggak? Nah, wanginya nggak jauh beda kayak itu. Cocok juga sama namanya: Fresh Calming. Wanginya tuh segar, pas dipakai bikin tenang kulit (dan perasaan). Terdengar masuk akal sih kenapa sebagian orang bilang pakai skincare itu bantu ngelepas stress. Hehehe...


CARAKU PAKAI

Cara pakai Laneige Fresh Calming Toner normal aja kayak toner-toner lainnya. Dipakai setelah cuci muka. 

Kalau aku, biasanya aku tuang di tangan, lalu aku usap-usapin ke wajah sambil ditekan pelan-pelan biar panas dari telapak tangan bantu mempercepat penyerapannya ke dalam kulit.Aku sendiri nggak pakai banyak-banyak, cuma 2 tetes untuk seluruh muka. Kalau kebanyakan sukan lama kering soalnya. Hahaha maapkeun, orangnya nggak sabaran.

Atau kalau misal kulitku lagi agak patchy, tonernya aku tuang ke kapas, lalu kapasnya aku usap-usap ke wajah. Kulit-kulit mati yang meletek langsung keangkat gitu lho. Jadi semacam gentle exfoliating.

REVIEW

Tau nggak, sebenarnya Laneige Fresh Calming ditujukan buat usia 25 tahun. Sementara umurku 27 tahun. Nggak jauh-jauh amat lah ya. Meski gitu, aku yang pakai merasa oke-oke aja. Biar kata umurku di atas 25, nggak berarti produknya nggak bekerja. Di aku sih normal-normal aja. Yang paling berasa sih sensasi segarnya saat pakai.

Karena formulanya buat kulit berminyak yang dehidrasi dan kulit kombinasi, menurutku nggak ada efek mengurangi produksi minyak. Kalau melembapkan, iya. Fungsinya lebih ke merawat kali ya... Urusan tipe kulit berminyak, buat mengurangi kilapnya, menurutku itu lebih ke pemakaian makeup dengan hasil matte.

Jujur, aku pakai toner ini kulitku jadi halus. Eits, tapi nggak serta-merta karena pakai produk ini aja ya. Yang namanya cewek, produk skincare nggak cuma satu, ya kan? Aku juga pakai produk lain. Intinya sih, Laneige Fresh Calming Toner bikin kulitku segar, lembap, dan halus. Dan yang namanya toner, menurutku itu lebih ke merawat kulit. Kalau memperbaiki masalah kulit, kayaknya itu lebih ke serum deh. Benar nggak?

Overall, aku suka sama Laneige Fresh Calming Toner. Ya karena produk ini sesuai sama kondisi kulitku, berminyak tapi dehidrasi. Seolah udah menemukan jodoh. Hahaha...

By the way, kalau tertarik nyobain, Laneige Fresh Calming Toner tersedia di Sociolla. Harganya lagi promo jadi Rp 360.000,- udah termasuk gift gratis (lip sleeping mask, water bank eye gel, dan basic care moisture trial kit). Bisa cek sendiri di sini ya. Nah, biar harganya turun lagi, bisa pakai kode voucher SBNLA65S. Harganya jadi Rp 310.000,- lumayan banget lho.

Oke deh, ini review versiku. Kalau udah coba juga, share dong gimana pengalaman kalian pakai Laneige Fresh Calming Toner. I'd like to know :)

Makasih yang udah baca review-ku, semoga membantu ya... Annyeong~

Wednesday, January 10, 2018

Aku Menderita Anxiety, Masih Normal Tapi Cukup Mengkhawatirkan

Aku bisa bilang kalau....

Aku menderita anxiety

Emang memalukan bilang kayak gini dari mulut sendiri. Tapi dari artikel dan beberapa sumber yang aku lihat, apa yang aku rasain most of the days adalah anxiety. Boleh dibilang insecure yang berujung pada anxiety.

Apa itu anxiety? Bisa cari infonya di Google. Pendeknya, anxiety itu kecemasan berlebih. Dan memang itu yang aku alami.

Kalau boleh jujur, aku punya BANYAK banget insecurity dalam otak. Soal ini, soal itu. Gimanapun semua rasa nggak aman itu bikin aku cemas akan seperti apa aku nantinya. Kalian tau? Aku bisa ngehabisin berjam-jam buat nangis nggak kelar-kelar. Hanya karena mikirin diri ini yang selalu gagal sebagai manusia dan ketakutan akan gagal lagi di masa depan. Satu hal lagi, selalu banyak pertanyaan dalam benakku kenapa Allah nakdirin aku buat ngerasain semua 'ketidakenakan' ini.

Bukannya aku nggak bersyukur. Aku sangat bersyukur. Tapi yang bikin makin getir adalah ketika anxiety ini berimbas ke orang terdekat kita, which is pacar atau cowok yang lagi deket. Ujung-ujungnya jadi sering judging. Bagai jalan ke mulut jurang, dia jadi nggak nyaman sama kita. Alhasil, impian dikasih bunga, dikasih surprise, diperlakukan selayaknya guci fragile jadi semacam khayalan belaka. Karena kita nyebelin. Karena anxiety itu yang menyetir otak kita buat berlaku nggak ngenakin ke orang.

Jujur aja, sempat beberapa kali (sering malah) ada pikiran buat bunuh diri. Dengan anggapan aku sama sekali nggak punya worth atau value buat terus hidup. Apa gunanya hidup kalau aku cuma harus ngerasain sakit? Gunanya apa kalau yang bisa aku lakuin cuma nyusahin orang? Dan siapa yang harus disalahin sama semua masalah di hidupku? Nggak ada. Cuma aku, diri aku. Karena semua masalah, kecemasan, ketakutan, kegagalan, dan ketidakbenaran dalam hidupku berakar dari diriku sendiri. Dari siapa diri aku, personaliti aku, dan sikap aku. Siapa yang harus disalahin? Nggak ada. Cuma aku, diri aku.

Aku udah mencoba sekuat tenaga buat terus berpikiran positif. Mulai journaling buat merekam semua perjalanan, memotivasi diri sendiri, pokoknya dengan paksaan kuat aku berusaha semangat dan optimis. Tapi nggak bisa selamanya. Ada saat dimana anxiety itu muncul, sedikit demi sedikit memakanku, menyetir otakku buat terus jatuh -- yang bagaimanapun, jujur aja, merupakan sebuah 'kenyamanan' buat aku.

Aku sendiri nggak bisa menjelaskan dengan tepat gimana rasa nyaman dari anxiety muncul. Yang pasti, ada perasaan lega ketika aku nangis berjam-jam tanpa henti. Seolah air mata ini membawa keluar semua sumbat di hatiku. Meski nggak ada solusinya, cuma nangis, that's it.

Sebagai pribadi introvert, aku emang nggak bisa luwes cerita masalahku ke orang lain. Apalagi kalau udah menyangkut keluarga. Aku bahkan terlalu malu nyeritain keluargaku. Dan kadang, yang aku sesali, aku nggak bisa jadikan fungsi pacar sebagai tempat berbagi yang betul-betul dalam. Kayak ada dinding pemisah yang bikin aku enggan ganggu dia dengan semua masalah-masalahku.

Udahlah, anxiety ini terlalu kompleks. Mulai dari pacar, ke pekerjaan, sampai ke keluarga, semuanya sambung-menyambung jadi simpul rumit yang bikin kepala ini mau pecah. Aku rasa anxiety yang aku alami masih tahap normal, bukan gangguan. Karena fisikku masih prima. Mungkin ini cuma masalah kesehatan mental aja. Mungkin soal mindset. Atau mungkin soal bagaimana cara supaya aku bisa memaafkan dan mencintai diriku sendiri.

Monday, November 20, 2017

Pengalaman Interview Narasumber Generasi Jaman Old

Haloha...

Well, kali ini aku pengen cerita dan berunek-unek seputar pengalamanku interview narasumber. Buat yang belum tahu, aku ini adalah writer merangkap reporter di salah satu media online. Mewawancarai narasumber udah jadi salah satu tugas kerjaku. Tentu, buat kepentingan artikel yang bakal aku tulis. Nah, beberapa kali kesempatan, kami akan membahas batik. Di situlah aku ditugaskan buat interview narsum yang berkompeten soal batik. Dua narsum yang pernah aku temui adalah Bu Neneng Iskandar (kurator batik) dan Bu Obin (tukang kain yang juga dekat dengan batik).

Dua narsum ini boleh dibilang merupakan generasi jaman old, kalau kata kids jaman now. Sosok mereka juga sangat legendaris sebagai seseorang yang paham akan batik (seenggaknya seperti itu yang orang-orang bilang). Trus, gimana pengalamanku interview mereka? Baiklah, kalian bisa bersiap diri baca semua komentar dan unek-unekku di sini.

Komentar pertama: It was frustating! Nggak ngerti gimana menjelaskannya secara rinci, yang pasti seenggaknya kita harus usia 30-40an kalau mau nyaman interview mereka. Kenapa? Karena usiaku yang masih 25-an nggak nyambung 'ngobrol' sama mereka. Yang pasti, salah sedikit ngomong (misal, kepleset ngomong apa atau sekadar basa-basi), kita bakal 'disemprot'. Kecuali, kalau emang kalian adalah pribadi kritis dan tahu segala, mungkin kalian bisa jadi best friend mereka.

Tapi karena aku kerja di media yang mostly bahas fashion, beauty, dan lifestyle, juga di waktu yang sama aku adalah pribadi yang nggak terlalu peduli dengan apa yang menurutku nggak kasih efek langsung buat diriku, jadi wajar kan kalau aku nggak tahu segala? Soal politik atau hot issue, pilihanku buat nggak peduli karena menurutku bikin pusing. Ngurusin hidup sendiri aja udah stres apalagi ditambah mikirin politik bla bla bla. Egois, I know. Tapi nggak berarti otakku kosong.

Ini nih yang sebenernya aku pengen protes sama dua narsum ini ketika mereka men-judge aku sebagai orang yang "nggak tahu apa-apa" dan perlu baca buku. Konsentrasi keinginan, keunikan, passion setiap orang kan beda. Nggak tahu politik, budaya, atau hot issue nggak berarti bodoh. Coba, kalau dibalik aku yang mbahas soal K-Pop dan pop culture lainnya ke mereka? Mereka pasti KICEP! Tapi balik lagi, mereka adalah people jaman old. Wajar kalau mereka berharap lebih ke kids jaman now alias generasi milenial buat lebih aware sama sekitar dan lebih banyak belajar.

Cuman ya itu, aku nggak suka di-judge. Kita datang baik-baik mau intervew, mau tahu profil mendalam soal mereka dan apa itu batik/kain, eh malah pribadi kita dikatain. Kan kezel yak? Aku sih appreciate banget sama nasehat yang mereka kasih, tapi nasehat mereka menyiratkan judgment. Seolah kebanyakan anak sekarang nggak tahu caranya belajar. Hey, belajarnya kita beda-beda keleus. Karena jiwa dan passion-ku lebih ke generasi remaja, makanya aku suka K-Pop, K-drama, dan semua yang memang lagi disukai saat ini. Which is bukan sesuatu yang worthless karena tetap ada kalangan yang membutuhkan info ini. Misalnya, saat aku nulis buat situs remaja.

So guys, kalau kalian ada rencana interview dua narsum tersebut, terutama bu Obin, just make sure buat mempersiapkan diri. Kalau kalian merasa terlalu dini buat wawancara narsum usia sepuh, mending hand over ke editor atau siapapun yang usianya lebih dewasa. Kalaupun kalian yang tetep maju, banyak-banyak pereuz deh. Jangan terlalu polos. Jangan tanya hal yang infonya udah banyak ditemukan di internet dan majalah. Ah, intinya siap-siap disemprot aja deh.

Walau KEZEL beudh tiap inget interview mereka, aku jadi punya pengalaman dan tahu gimana cara menghadapi orang. Karena yang dibutuhkan reporter adalah jadi bunglon, bisa tahu dan mengimbangi orang yang lagi kita hadapi. Buat orang yang pengalaman interview-nya minim kayak aku, emang agak susah sih. Tapi seenggaknya udah mencoba.

So yeah, itu pengalamanku. Semoga membantu ya. Ciaobella~

Saturday, October 28, 2017

When Your Life is a Chicklit

Haihooo...

Udah lama banget astaga nggak menyentuh blog yang udah lumutan ini. So here it is, I am here again to share a lil deep thought of mine.



Umurku udah di atas 25 tahun. Dan yang aku sadari, umur segitu tuh ceritanya miriiiiippp banget sama cerita-cerita di chicklit. Well, belum pernah baca chicklit sih seumur hidup, bacanya teenlit dulu pas SMP SMA hahaha. Tapi aku tahu, chicklit itu ya novel-novel soal perempuan dewasa umur 25 ke atas dan biasanya isi ceritanya nggak jauh-jauh dari dua poin utama ini: 1) jodoh dan 2) karier.

Yap, bener banget! Aku juga merasa di umurku yang sekarang ini aku jadi lebih fokus sama dua hal itu. But to be honest, karier ada di urutan pertama karena saat ini aku nggak begitu memusingkan masalah jodoh (aka nikah). A S L I, aku udah mulai kepikiran soal perjalanan karier. Umur jelas udah nggak muda. Trus aku berkarier di Jakarta. Posisi pekerjaanku bisa dibilang udah settle. Tapi aku kepikiran soal ke depannya. Banyak banget pertimbangan dan pikiran di otakku.

Sebenernya aku udah sangat contentful sama apa yang aku jalani sekarang. Bahagia deh pokoknya. But again, hidup di Jakarta nggak murah. Kebutuhan dan keperluan banyak, apalagi kalau mau sedikit ngikutin gaya hidup kekinian or simply pengen tampil fashionable dengan baju paling trendy. Semua butuh fulus heyy. Somehow, satu pekerjaan sebenernya nggak cukup buat nge-cover itu semua (ditambah banyak tagihan ini itu ye kan?). Oke, lupakan duit sejenak karena duit bisa dicari dan banyak ladang duit di Jakarta, we only need to dig them more.

Yang bikin insecure adalah mau dibawa kemana karierku? Apa aku harus tetep di titik ini? Padahal aku udah sangat sangat nyaman dan nggak mau pindah ke lain hati. Mengingat kepribadianku yang "agak aneh", aku juga takut buat keluar dari comfort zone ini. Tapi balik lagi, mau sampe kapan? Do I have promising better future if I stick around? I D O N T K N O W

Walau kepikiran soal ke depannya, tetep aja aku nggak bisa move on. Buat saat ini aku milih untuk tetap di posisi yang sama, karena aku sendiri merasa belum banyak belajar dan menyerap ilmu. Kadang cuma bisa nangis mikirin karier tapi karena aku anaknya pasrahan banget ya jadinya nggak bisa berbuat apa-apa selain berusaha di sisi lain tanpa harus meninggalkan zona nyaman ini. Satu, I feel it's my home.

Lanjut, J O D O H. Umurku udah sangat pantas buat nikah. Bukan pantas lagi sih, emang udah waktunya harus nikah. But hey, aku sama sekali belum ada pikiran serius ke arah sana. Ada banyak faktor kenapa aku belum pengen nikah (dan belum dikasih jalan sama Allah buat nikah). Salah satunya karena aku merasa jiwaku selalu remaja yang emang belum pantes nikah. Yang bikin aku bersyukur karena penampilanku nggak kayak umur 27 tahun. Hahaha.

Walau belum ada pikiran nikah, aku pun bersyukur karena sekarang aku punya seseorang yang aku sayang dan sayang aku. Hubungan yang pengen aku jalani aja dulu apa adanya. Ada dia di sisiku udah cukup buat aku bahagia lahir batin dengan keadaan aku sekarang yang melibatkan karier itu tadi. Saranghae, namja chingu <3 <3 <3

So yeah, inilah aku di titik bahwa cerita chicklit benar adanya dan ternyata sedang aku jalani :D

Saturday, August 26, 2017

REVIEW: Facial di Bella Skincare Plaza Indonesia - Penyesalan Terpahit Tahun 2017

Anyyeong...

Bulan Juni lalu adalah masa dimana aku punya kesempatan dapet treatment profesional di klinik kecantikan. Pertama, botoks tanpa suntik di EUROSKINLAB. Kedua, facial di Bella Skincare Plaza Indonesia. Nah, kali ini aku mau cerita pengalamanku facial di Bella Skincare. Oh iya, sebenernya aku facial di sana bukan buat tujuan review. Murni karena pengen perawatan aja. Jadi nggak ada foto pas aku facial. Tanpa babibu lagi, cusss aku ceritain.

Well, aku bisa facial di Bella Skincare karena punya voucher senilai 1 juta rupiah. Angka yang lumayan besar buat aku, dan normally aku nggak pernah treatment sampe ngeluarin duit sejuta. Ya ampun, treatment di klinik kecantikan aja jarang banget. Makanya excited banget buat nyobain treatment di sana. Apalagi Bella Skincare ada di Plaza Indonesia, which is bisa dilihat klinik kecantikan ini cukup premium.

Aku tadinya mikir voucher sejuta tadi bisa dipakai untuk treatment apapun, bebas milih (ya mungkin aku bisa nambahin kurangnya kalau emang harga treatment yang aku pilih lebih dari sejuta). Eh ternyata voucher ini cuma berlaku buat facial. Itupun facial yang biasa. Mbak resepsionisnya kasih aku pilihan lain buat facial serum yang harganya 1,3 juta. Yang artinya aku harus nambah 300 ribu buat dapet tambahan infus serum ke proses facial. Karena sejuta aja menurut aku udah mahal dan aku nggak ada concern apapun dari si serum, plus duit 300 ribu bisa dipake buat hal lain yang lebih penting, akhirnya aku pilih facial biasa aja. Astaga, facial aja ampe 1,3 juta. Ya kali. I'm not a socialite, girl.

Bella Skincare di Plaza Indonesia lumayan kecil kliniknya. Lokasinya pun ada di ujung, depan lift. Jadi, agak tersembunyi gitu deh. Kamar kliniknya pun terbilang kecil dan sempit. Pencahayaannya pun super duper remang-remang. Tapi kayaknya emang sengaja kayak gitu biar kita rileks. Musiknya juga bikin rileks.

Jadi guys, di sini aku mau negasin kalau facial seharga sejuta itu sama aja kayak facial biasa, yang mungkin bisa kita dapet dengan harga super murah di klinik kecantikan lain. Kalian tahu kan, facial udah pasti mukanya dieksfoliasi pakai scrub, dipencetin komedonya, dan dipakaiin masker. Nah, yang bikin pedih bagian pencet-pencet komedo nih.

Aku sih masih oke-oke aja komedonya diangkatin. Pas dipencet kan mata ditutup kapas, jadi nggak bisa lihat di cermin atau at least hp. Nggak sadar kalau mbak beauticiannya mencet juga ke arah pipi. Yang aku tahu, pas dipencet rasanya sakit pedes.

Selesai facial dan mulai makeup, yang aku sadarin mukaku jadi banyak bolong-bolong bopengnya. Karena pencahayaan ruangan yang temaram, kan jadi jelas bayangan bolongnya. Pokoknya super jelas! Padahal sebelum facial, bopeng di mukaku masih tipis, nggak sedalem dan sebanyak ini. Kanan kiri pula. Udahlah, habis itu aku langsung lemes. Dan sampai sekarang, bopeng di mukaku masih keliatan dan dalem. Tiap kali liat muka, rasanya sedih banget.

So guys, dari pengalamanku ini, sebaiknya kalian lebih berhati-hati kalau mau facial. Atau kalau bisa jangan facial deh, apalagi yang jerawatan atau beruntusan. Soalnya bagian pencet komedo dan jerawat itulah yang ninggalin bekas terpedih. Bopeng itu nggak akan pernah hilang seumur hidup. Meski yang aku tahu bisa dikurangi dengan tindakan laser, rasanya pasti nggak rela kan muka yang tadinya mulus jadi bolong-bolong kayak bulan? Niat untung, malah buntung. Semua gara-gara facial. KESEL!!!

Yang perlu dicatat, di sini aku nggak nyesel treatment di Bella Skincare. Yang aku sesalin adalah kenapa aku harus facial. Dan kebetulan, kenapa mbak beauticiannya maksa mencet di sana sini alias di pipi. Kan jadi beginiiii TT_TT *nangis darah*.

Ya sudahlah, yang udah terjadi ya udah. Nggak bisa diapa-apain lagi. Sekalipun kulitku udah nggak jerawatan lagi, bopeng ini tetep ada. Maybe in the future aku mau coba treatment buat ilangin bopeng ini. Tapi nggak di klinik kecantikan, tapi langsung ke dokter kulit yang paling tahu dan ahli soal kesehatan kulit (jadi nggak cuma cantik aja ya!).

Oke deh, semoga postinganku ini membantu. Nggak aku sertakan foto apa-apa ya. Soalnya emang nggak ada fotonya. Dan aku mau jadiin postingan ini sebagai bentuk duka. So, no photo at all.

Ciaobella~~

Friday, August 25, 2017

REVIEW: Botox Tanpa Suntik di EUROSKINLAB Kelapa Gading

Halooo...

Akhirnya kembali nge-blog setelah sekian lama menelantarkan blog ini #tsahhh. Oke deh, kali ini aku mau share pengalaman treatment botox without injection alias botox tanpa suntik di klinik kecantikan EUROSKINLAB Kelapa Gading. Btw, ini adalah treatment undangan liputan, jadi aku nggak dikenain biaya. Sekarang aku mau review treatment ini di blog supaya lebih kasual dan 'jujur'.

Kayak yang kita tahu, botox itu treatment anti-aging. Biasanya dipakai buat mengurangi penampakan keriput. Itupun cara pakainya dengan memasukkan botox ke dalam kulit pakai jarum suntik. Duh, mbayangin aja udah ngilu. Soalnya emang nggak suka sakit, apalagi suntik-suntik segala.

Bedanya sama botox biasa, botox dari EUROSKINLAB ini nggak pakai jarum suntik alias non-injectable botox. Namanya IBFT (Interdermal Botox Facial Therapy). Emang bisa? Bisa dong. Apalagi sekarang banyak banget artikel yang nyebut ada produk-produk kecantikan yang fungsinya sama kayak botox. Artinya treatment botox tanpa suntik udah pasti sangat memungkinkan. Yang terpenting: NGGAK SAKIT.

Perbedaannya lagi sama botox biasa, IBFT sangat disarankan buat usia 25 tahun ke atas, usia yang produksi kolagennya mulai berkurang. Jadi, fungsinya lebih ke merawat, bukan memperbaiki. Kayak namanya, treatment ini sama sekali nggak melibatkan jarum suntik. Prosesnya justru serupa kayak facial biasa, tapi ditambah dengan langkah pemberian botox dan serum khusus. Oh iya, IBFT ini bakal memasukkan cocktail botox dan serum ke dalam kulit. Ini nih poin penting dari treatment ini.

Oke deh, langsung aja review-nya ya!

Apa yang aku dapet?

Sebelum ke proses treatment, aku konsultasi dulu sama dokter soal jenis dan kondisi kulitku. Dari situ dokter akan menentukan serum apa yang sesuai sama kulitku.

Btw, ada empat serum yang tersedia, yaitu rejuvenation serum, anti-acne serum, anti-aging serum, dan lightening serum. Dilihat dari kondisi kulitku yang banyak hitam-hitam bekas jerawat, dokter nyaranin aku pilih lightening serum. Ya udah akhirnya aku pilih serum buat mencerahkan kulit.

botox tanpa suntik

Facial

Prosesnya kayak facial pada umumnya. Cleansing, toning, extraction, and masking. Ya gitu, yang namanya facial pasti dipencetin komedonya. Extraction ini diperlukan biar pori-pori bersih, jadi nanti botox dan serumnya bisa meresap dengan baik ke dalam kulit. Bisa kalian tebak, dipencetin komedonya itu sakit. Ini sih bukan sakit disuntik, tapi dipencet-pencetin TT_TT

Setelah itu, masuk ke proses inti: memasukkan botox dan serum. Buat proses ini, yang melakukan dokter langsung, bukan beautician. Cara memasukkannya pakai alat bernama DermaElectroPoration. Yang jelas ini bukan alat dengan sinar laser, ya. Serum yang berbentuk gel diusapkan ke seluruh wajah pakai alat ini. Rasanya hangat-hangat gimanaaa gitu. Terus cekit-cekit kayak digigit semut, tapi masih bearable. Nggak sakit kok. Dokter pun komunikatif dan selalu nanya apakah rasanya sakit apa nggak.

Selesai, dilanjutin sama masker dengan manfaat lightening. Masker yang dipakai disesuaiin sama jenis serum yang dipakai tadi. Supaya hasilnya lebih maksimal, pastinya. Yang bikin nyaman, beautician kasih pemijatan di wajah, leher, dan bahu. Rileks deh, walau at the same time berasa pegel juga sih. Hahahaha.

botox tanpa suntik

Indikasi

Setelah treatment, nggak boleh pakai makeup dulu. Tujuannya biar serum tadi bekerja dengan sempurna. Overall, nggak ada down time after treatment kok. Bisa langsung buat beraktivitas dan malam harinya bisa pakai skincare pribadi.

Review

Diklaim, sekali treatment udah menunjukkan perbedaannya. Walau sebenernya treatment ini harus dilakukan 6 kali dengan interval waktu 1 minggu (FYI, harga per paket 6x IBFT sekitar 21 juta rupiah). Dan aku cuma dapet 1x treatment aja. Yang aku perhatikan sih nggak ada perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah treatment. Bekas jerawatku masih gede item-item terlihat jelas. Kulit cerah pun nggak begitu kentara (mungkin karena kulitku kusamnya berlebihan T_T hahaha becanda). Tapi yang pasti, kulit jadi lebih halus.

Buat yang berduit dan pengen ngerawat wajah tanpa buru-buru pengen ngelihat hasilnya, treatment IBFT ini oke sih buat dicoba. Tapi kalau pengen hasil instan, ya balik lagi ke botox konvensional yang pakai jarum suntik. Kalau aku sih nggak akan coba dua-duanya. Alasannya, pertama nggak punya uang sebanyak itu buat treatment. Kedua, takut sakit disuntik. Ketiga, aku lebih pilih treatment di rumah aja pakai masker. Hahahaha.

EUROSKINLAB Kelapa Gading
Alamat: Komplek Bukit Gading Indah Blok A10-11, Kelapa Gading, Jakarta Utara
Instagram: @esl_euroskinlab

Semoga review-ku ini membantu ya! Ciaobella~~
 

Pretty Petite Template by Ipietoon Cute Blog Design